Warga Jakarta banyak yang gundah gulana. Rencana kenaikan tarif parkir yang jadi musababnya. Rencananya tarif parkir akan dinaikkan antara 20 sampai 30 persen. Dalam wawancaranya dengan media seperti saya kutip di sini, Sekretaris Daerah bilang tarif parkir bisa mencapai Rp 50 ribu. Ya wajar sih kalau banyak yang baper pas denger angka segitu.

“Pertumbuhan kendaraan pribadi di Jakarta ini makin tidak bisa dibendung,” kata Saefullah kepada wartawan di Balaikota DKI Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Pernyataan Pak Sekda memang betul. Merujuk data infografis yang dibuat kumparan.com berdasar data Polda Metro Jaya, jumlah kendaraan di Jakarta per Februari 2017 sudah menembus angka 10,9 juta. Dari jumlah itu, 91,69% adalah kendaraan pribadi (sepeda motor 68,09% dan mobil penumpang 23,60%)

 

Dengan tarif parkir yang melambung tinggi, diharapkan warga beralih ke kendaraan umum. Rencana ini langsung ramai disikapi publik. Ada yang setuju, namun lebih banyak yang menentang. Kubu yang setuju kemungkinan adalah mereka pengguna transportasi publik ataupun mereka yang telanjur kaya. Seorang pengamat mendukung rencana pemerintah karena mengklaim tarif parkir di Jakarta adalah yang terendah di dunia.

Sedangkan mayoritas kelas menengah sudah pasti menjerit mendengar rencana ini. Pemerintah dianggap sadis. Bayar cicilan LCGC (low cost and green car) saja sudah megap-megap, malah mau disiksa lagi dengan kenaikan tarif parkir.

“Jangan samakan Jakarta dengan Singapura, di sini kan transportasi publiknya masih jelek. Kalau MRT-LRT sudah jadi, boleh deh parkir dimahalin,” kata seorang warga di acara talkshow radio yang saya dengar tadi pagi. Saya nggak yakin juga dia bakal beralih ke kendaraan umum kalau MRT-LRT sudah jadi.

Saya sendiri juga sebetulnya keberatan dengan kenaikan tarif parkir. Saya malah maunya Pemprov DKI Jakarta bisa menerapkan tarif parkir Rp 0,- alias gratis. Kalau rumah saja bisa DP Rp 0,- harusnya tarif parkir bukan perkara sulit.

Tentu ada syarat dan ketentuan berlaku dong. Berikut ini yang bisa saya sarankan :

  1. Parkir gratis hanya di ‘kantong parkir’ khusus bagi pengemudi yang akan beralih menggunakan Transjakarta. Seperti misalnya yang sudah ada di Ragunan. Pemprov DKI Jakarta harus menyediakan lahan parkir di dekat setiap halte paling ujung koridor Transjakarta.
  2. Parkir gratis berlaku bagi pengguna Transjakarta berlangganan. Mekanismenya dengan membuat kartu berlangganan yang sekaligus bisa digunakan untuk tap di parkir meter dan di halte busway. Tidak semua bisa dapat parkir gratis juga. Parkir gratis diberikan bagi pengguna yang langsung berlangganan Transjakarta selama 1 tahun atau mengisi saldo Rp 1.848.000 (Rp 3.500 x 2 perjalanan sehari x 22 hari kerja x 12 bulan). Pelanggan khusus ini tidak akan terpotong saldonya saat tap kartu mereka di parkir meter. Sedangkan mereka yang tidak berlangganan satu tahun tetapi mengisi saldo dalam jumlah tertentu juga bisa saja diberikan tarif parkir khusus yang lebih murah dibanding tarif harian.

 

Disclaimer : saran di atas lahir dari pikiran-pikiran iseng saat melintasi kemacetan Jakarta di pagi hari, bukan hasil kontemplasi apalagi riset ilmiah yang serius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *