Ketidakhadiran pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di acara ROSI dan Kandidat Pemimpin Jakarta di Kompas TV, Minggu (2/4) malam tadi menjadi pergunjingan.

“Sebagian menduga mungkin Anies dan juga Sandi ‘trauma’ dengan debat terakhir di Metro TV di mana Ahok berhasil memperlihatkan pengetahuannya akan kompleksitas problematika Jakarta dan solusi kongkrit mengatasinya. Sementara Anies kelihatan gagal mempergunakan debat itu untuk memperlihatkan program-program. Bahkan Anies mempergunakan semua segmen untuk menyerang Ahok secara pribadi,” ungkap Raja Juli Antoni dalam keterangan tertulis seperti saya kutip dari detik.com.

Tudingan kubu petahana ini langsung dibantah oleh tim Anies-Sandi. Melalui rilis di laman resmi mereka, di poin kelima dituliskan, “Menanggapi juru bicara Tim Basuki-Djarot, Anies-Sandi, baik sebagai pasangan maupun sendiri-sendiri, tidak pernah memiliki trauma terhadap debat. Bahkan sekitar seminggu sebelum ini, Anies sekali lagi membuktikan dominasinya terhadap Basuki yang konon kekalahannya di debat itu disebabkan semata-mata karena beliau sedang sakit gusi.”

Rilis tersebut berjudul “Tentang Ketidakhadiran Bang Sandi dalam Acara Rosi“. Entah mengapa judul artikelnya hanya menyebut Bang Sandi tanpa disertai Mas Anies. Poin pertama sampai keempat berisi kronologis versi mereka. Intinya hampir sama dengan yang saya dapat dari salah satu tokoh yang dekat dengan pasangan ini tadi malam melalui WhatsApp, yaitu bahwa Anies-Sandi memang tidak pernah mengonfirmasi akan hadir namun KompasTV tetap mengklaim kedua pasangan akan bertemu di acara Rosi. Dijelaskan juga sebelumnya ada ketidaksepakatan mengenai format acara.

 

Saya sendiri sebetulnya mendapat undangan untuk hadir di acara tersebut. Saya pertama menerima undangan dari Pengelola Kompasiana pada Jumat tanggal 24 Maret 2017 melalui surel. Di surel tersebut disampaikan bahwa acara akan berlangsung dua hari yaitu pada Rabu (29/3) dan Kamis (30/3) di Balroom Djakarta Theatre. Hari pertama akan mempertemukan para calon wakil gubernur, sedangkan calon gubernur akan bertemu di hari kedua. Saya mengonfirmasi akan hadir pada hari kedua saja. Namun, pada hari Senin (27/3) saya mendapat surel lagi yang mengabarkan kalau acara diundur hingga waktu yang belum ditentukan.

 

Tiga hari kemudian saya menerima update informasi, acara Rosi akan digelar pada hari Minggu (2/3) di lokasi seperti semula. Asumsi saya ketika menerima surel ini adalah kedua pasangan cagub-cawagub sudah sepakat dengan jadwal baru dan format acara. Saya kaget juga dengan ketidakhadiran Anies-Sandi tadi malam. Untung saya juga nggak jadi datang karena kebetulan kemarin siang dapat jadwal piket di Posko Bersama Pilkada di Balai Kota. Kekecewaan saya pasti berlipat ganda kalau sudah bela-belain datang.

Apakah ketidakhadiran Anies-Sandi akan memengaruhi elektabilitas mereka?

Sejujurnya, saya hanya menonton sebentar acara semalam yang mutlak menjadi panggung bagi Ahok dan Djarot. Sekilas saya melihat cuitan warganet yang ditayangkan di running text KompasTV. Umumnya mereka memuji Ahok-Djarot dan mencerca Anies-Sandi. Framing yang sedang dibangun sekarang pun menyudutkan Anies-Sandi seolah-olah mereka tak punya nyali untuk debat. Situasinya agak mirip saat Agus Yudhoyono menolak tampil di acara debat selain yang resmi dari KPU. Agus dan Sylvi pun kemudian tereliminasi dari persaingan.

Pemasaran politik menjadi aspek yang sangat diperhitungkan dalam konteks perilaku memilih kontemporer. Newman & Sheth (1988) menggunakan sejumlah kepercayaan kognitif yang berasal dari berbagai sumber seperti pemilih, komunikasi dari mulut ke mulut, dan media massa. Logika media telah menjadi bagian yang integral dari politik sehari-hari (Brants & Voltmer, 2011). Televisi dengan jangkauan pemirsa yang luas masih menawarkan kelebihan dalam memasarkan brand politik baik partai maupun kandidat.

Tim pemenangan Anies-Sandi pasti punya pertimbangan sebelum memutuskan tidak hadir. Di samping alasan sebagaimana diungkap lewat rilis resmi, pasti ada kalkukasi politik terkait dengan kepentingan elektoral. Mungkin mereka sudah berhitung dampak rusaknya citra akibat tidak hadir di debat tidak sedestruktif dibanding perundungan yang diterima gegara gagasan mereka yang memang tidak sesuai ‘selera’ kelas menengah yang ribut di media sosial. Hal ini setidaknya bisa dilihat dari berita di sini, yang menyatakan Sandi sebelumnya sempat mengonfirmasikan kehadirannya namun Eep Saefullo Fatah selaku konsultan politik mengabarkan hal berbeda.

Saya meyakini perebutan suara undecided voters masih akan seru hingga 19 April nanti. Absennya Anies-Sandi di KompasTV tidak serta merta akan memuluskan jalan Ahok-Djarot untuk kembali memimpin Jakarta lima tahun ke depan. Satu hal yang pasti, Anies-Sandi tidak bisa menghindari debat resmi versi KPU tepat seminggu sebelum pemungutan suara. Momen itu akan lebih menentukan bagi kedua pasangan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *