Gol Zlatan Ibrahimovic tiga menit jelang bubaran menjadi penentu kemenangan Manchester United di final Piala Liga Inggris, di Stadion Wembley, Minggu (26/2) waktu setempat. Akankah ini jadi era kejayaan baru The Red Devils bersama Jose Mourinho?

 

Dua dekade gemilang MU bersama Sir Alex Ferguson memang sulit dilupakan. Wajar kalau pendukung Setan Merah susah move on. Torehan prestasinya bersama The Red Devils mengundang decak kagum. Bayangkan, dari total 20 gelar juara Premier League, 13 di antaranya disumbangkan oleh Sir Alex! Pria asal Skotlandia itu juga mengantarkan anak asuhnya dua kali menjuarai Liga Champions Eropa, 5 Piala FA, 4 Piala Liga, dan masih banyak trofi lain.

Keputusan Ferguson untuk pensiun pada akhir musim 2012/2013 menjadi pukulan telak bagi MU. Stabilitas prestasi langsung terancam. David Moyes yang dipilih sendiri oleh Fergie tak kuat menduduki kursi panas itu. Tidak menunggu satu musim, pintu keluar Old Trafford langsung terbentang untuknya. Ryan Giggs sang asisten yang notabene juga eks didikan Sir Alex cuma dipercaya memegang jabatan itu sampai akhir musim 2014.

MU lantas menunjuk Louis van Gaal yang punya curriculum vitae cukup oke. Dengan nama besar dan pengalamannya, Meneer Belanda ini diharapkan bisa mengembalikan kejayaan MU. Dua musim menukangi Wayne Rooney cs., Van Gaal gagal penuhi ekspektasi fans dan manajemen. Di musim pertamanya, Van Gaal hanya bisa mengoreksi pencapaian MU di klasemen akhir dari posisi ketujuh di 2013/2014 menjadi peringkat keempat pada 2014/2015. Musim lalu, ia sukses mempersembahkan Piala FA namun sayang di kompetisi liga justru tercecer di urutan kelima. Kecewa dengan hasil itu, Direksi MU pun say goodbye untuk Van Gaal.

Dengan ambisi mengembalikan kejayaan MU, manajemen akhirnya mendatangkan Jose ‘The Special One‘ Mourinho awal musim ini. Pria Portugal yang dulu sering berkonfrontasi dengan Sir Alex ini harus diakui memiliki catatan mengilap bersama sejumlah klub yang ia pernah tangani. Julukan The Special One tentu bukan sekadar sesumbar. Sukses membawa Porto ke level tertinggi Eropa ia buktikan bukan kebetulan lewat rekam jejaknya di Chelsea, Inter Milan dan Real Madrid.

Ternyata memang tidak mudah melatih klub sebesar Manchester United. Mourinho sekalipun mengalami kesulitan yang sempat dirasakan Moyes dan Van Gaal. Hingga pekan ke-26 Preier League, The Red Devils masih tertahan di peringkat keenam. Padahal kalau bicara kualitas para pemainnya, MU tidak bisa dibilang lebih buruk dari Chelsea, Arsenal dan Manchester City. Itulah mengapa gelar Piala Liga menjadi penting bagi Mou. Ia perlu meyakinkan fans dan manajemen sedini mungkin bahwa ia menjanjikan banyak kesuksesan.

“Saya sangat senang. Saya sangat senang. Ini penting untuk fans, klub dan para pemain. Saya selalu menempatkan diri saya bukan sebagai prioritas, walaupun realitanya ini juga penting untuk saya. Saya memberi banyak tekanan pada diri saya sendiri. Saya sangat ingin memenangkan gelar mayor dengan semua klub, dan lega rasanya bisa meraihnya bersama Manchester United. Ada target besar bagi saya untuk memenangkan trofi bersama MU, tetapi kami menginginkan lebih. Kontrak saya masih panjang, saya masih punya dua tahun lebih dan saya harap bisa memenangkan gelar lain lagi musim ini. Saya tahu itu sulit, tetapi kami harus berjuang untuk mendapatkannya,” ujar pria Portugal ini seperti disitat laman resmi MU.

Apakah Mou benar bisa mengembalikan MU ke level tertinggi? Jujur saja, sejauh ini Setan Merah belumlah ditakuti seperti saat masih diasuh Ferguson. Namun, terlalu prematur menilai Mourinho gagal. Jangan kira Sir Alex Ferguson langsung sukses saat mendarat di Old Trafford. Tiga tahun pertamanya menangani Manchester United, tidak ada yang istimewa. Bergabung dengan Setan Merah pada 1986, baru pada tahun 1990 ia meraih trofi pertamanya (Piala FA). Ferguson bahkan butuh waktu tujuh tahun untuk bisa mengantar MU meraih gelar juara Liga Inggris pada musim 1992/1993. Tapi, setelah itu, The Red Devils menjadi tim yang begitu disegani tidak hanya di Inggris Raya, tetapi juga di Eropa.

Jadi, mampu atau tidaknya MU kembali mengukir deretan prestasi di masa depan bukan ditentukan oleh Mourinho seorang tetapi justru lebih pada seberapa sabar manajemen. Rahasia terbesar kesuksesan Manchester United bersama Sir Alex adalah kesabaran dari manajemen (Board of Director) di periode akhir 1980-an sampai awal 1990-an yang sepertinya sudah berubah saat ini. Andai saja Direktur MU saat itu kelakuannya seperti manajemen klub-klub besar saat ini, mungkin tidak akan ada rentetan prestasi yang ditorehkan Ferguson.

Secara tersirat, Mou sudah mengirimkan pesan kepada manajemen saat ia mengomentari nasib Claudio Ranieri yang dipecat Leicester beberapa hari lalu. JUARA INGGRIS dan PELATIH TERBAIK FIFA, dipecat. Itulah sepakbola baru, Claudio. Tetap tersenyum, KAWAN. Tak seorang pun bisa menghapus sejarah yang telah kau tulis,” demikian caption Mourinho dalam foto bersama Ranieri yang diunggahnya di Instagram. Mou juga menggunakan polo shirt dengan inisial CR (Claudio Ranieri) saat menghadiri konferensi pers jelang laga Piala Liga untuk menunjukkan simpatinya pada rekan sejawat yang dulu ia gantikan di Chelsea.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *