Hari pemilihan semakin dekat. Siapa yang akan menjadi gubernur Jakarta 2017-2022? Basuki Tjahaja Purnama sebagai petahana kini semakin terdesak dari singgasana.

Mulutmu harimaumu. Ahok harusnya resapi betul peribahasa itu. Seolah tak belajar dari kesalahan, ia ulangi lagi perangainya. Tindakan dan ucapannya di persidangan yang menghadirkan KH Ma’ruf Amin sebagai saksi, Rabu (1/2) kemarin, kembali memicu kemarahan sebagian kalangan. Kyai Ma’ruf pun dituding berbohong dan memberi kesaksian palsu. Dalam sidang kasus penistaan agama tersebut Ahok dianggap menistakan ulama (lagi). Selain intonasi yang menghardik, ada sepenggal kalimatnya yang dinilai intimidatif.

Gambar 1. KH Ma’ruf Amin di persidangan

Sampai kemarin siang, eks Bupati Belitung Timur itu masih menunjukkan keengganannya meminta maaf. Entah kena angin apa, di sore hari sikapnya melunak. Melalui rekaman video, ia menyampaikan permohonan maaf kepada KH Ma’ruf. Sebelumnya beredar juga tulisan klarifikasi yang ditandatangani Ahok. Kepada media, Kyai Ma’ruf mengaku sudah memaafkan Ahok. Tapi, umat kebanyakan tidak sama dengan ulama yang lebih mudah lapang dada. Kyai Ma’ruf berbeda dengan Rizieq Shihab yang mengklaim sepihak sebagai imam besar umat islam Indonesia. Kyai Ma’ruf jelas punya dukungan massa Nahdliyini di belakangnya.

Sentimen negatif terhadap Ahok di media sosial melonjak tajam kemarin. Merujuk pada data dari Politicawave.com yang dimuat Tempo.co, per hari ini (2/2) jam 14:42 siang, Net Sentiment pasangan calon nomor 2 ada di angka -138.951 (lihat gambar 2). Percakapan di medsos mengenai Ahok memang sudah ada di axis negatif sejak beberapa pekan lalu, tapi tidak separah kemarin. Sehari sebelum persidangan, saya sempat memantau Politicawave, saat itu Net Sentiment Ahok-Djarot masih di kisaran -40.000 an (lihat gambar 3). Nama Ahok memang ramai dibicarakan di medsos kemarin. Jumlah buzz-nya naik drastis dari sebelumnya sekitar 89 ribu percakapan (tanggal 31 Januari) jadi mencapai lebih dari 203 ribu.

Gambar 2. Screen Capture tanggal 1 Februari 2017
Gambar 3. Screen capture tanggal 31 Januari 2017

Sementara itu, pada hari yang sama Poltracking juga merilis hasil survei terakhir mereka. Periode surveinya adalah 24-29 Januari 2017. Untuk popularitas, Ahok jelas masih nomor satu. Akan tetapi tren kesukaan terhadap dirinya kembali turun. Anies disukai 82% responden, Agus 77,38%, dan Ahok cuma 62,88% (lihat gambar 4). Sementara dari sisi elektabilitas (keterpilihan), Anies akhirnya berhasil melewati Ahok. Selisihnya sangat tipis, yaitu Anies (27,75%) dan Ahok (27,63%), diikuti oleh Agus (22,75%) paling buncit (lihat gambar 5).

Gambar 4. Tren tingkat kesukaan terhadap kandidat
Gambar 5. Tren tingkat keterpilihan kandidat

Dengan hanya menyisakan waktu kurang dari dua minggu, tim sukses Ahok-Djarot jelas harus kerja keras. Alarm bahaya terlempar dari persaingan sudah semakin kencang. Hasil survei Poltracking yang notabene sebelum polemik dengan Kyai Ma’ruf saja sudah menunjukkan tren penurunan dukungan. Bukan tidak mungkin keterpilihan pasangan ini kembali melemah. Situasi sekarang berkebalikan dengan pilkada lima tahun silam, di mana elektabilitas pasangan Jokowi-Ahok justru menanjak dari waktu ke waktu (lihat gambar 6). Jika tak pandai atur strategi, Ahok-Djarot siap-siap jadi penonton di putaran kedua.

Gambar 6. Tren elektabilitas kandidat pilkada Jakarta 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *