“Hendak pengobatan kah ke sini, Pak Cik?” tanya sopir Grab Car ketika saya menggunakan jasanya dari Penang International Airport menuju The Royale Bintang Hotel. Pertanyaan serupa terulang beberapa kali setiap saya naik Grab. Ternyata memang banyak orang Indonesia yang sengaja datang ke Penang untuk berobat. Bahkan, ada tour & travel yang menyediakan paket ‘wisata medis’ semacam ini. Konon, biaya medical check up dan tindakan medis lain di Penang lebih murah dibandingkan dengan rumah sakit swasta di Tanah Air. Jangan kaget juga kalau saat tiba maupun berangkat di bandara Anda menjumpai penumpang yang diangkat dari kursi roda atau malah tempat tidur.

Selain yang ingin berobat atau check up, ada juga yang datang ke Penang murni untuk berwisata. Pulau Penang menawarkan sajian pariwisata yang berbeda dengan Kuala Lumpur. Nah kalau saya, ke Penang bukan untuk berwisata ataupun berobat. Saya berkesempatan mengunjungi pulau peninggalan kolonial Inggris itu dalam rangka mengikuti konferensi Sustainable Development and Planning 2016. Paper saya dimuat di prosiding konferensi yang digelar oleh Wessex Institute (Inggris) itu. Saya pun menghadiri konferensi untuk mempresentasikan paper tersebut.

Bersama Prof. Carlos Brabbia dari Wessex Institute

So, dari total lima hari perjalanan, saya nyaris tak punya waktu khusus untuk melancong. Berangkat di hari Senin siang, saya terhambat karena kelakuan salah satu maskapai nasional yang terkenal buruk reputasinya dalam ketepatan waktu. Jika di jadwal saya akan tiba pukul 18.00 waktu Penang, kenyataannya saya baru sampai jam 23.00. Itu pun setelah pindah maskapai saat transit di Medan. Konferensi berlangsung dari Selasa sampai Kamis. Jumat pagi kami sudah dijadwalkan pulang. Artinya, saya hanya bisa curi-curi kesempatan di waktu senggang, biasanya sore sampai malam setelah konferensi selesai.

Tidak banyak lokasi wisata yang bisa saya kunjungi. Salah satunya adalah Penang Hill. Setelah pesiar di Gurmey Plaza, kami nekat pesan Grab menuju Penang Hill. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ternyata di sana masih ramai. Untuk menuju ke atas bukit, kita menggunakan kereta dengan desain yang unik. Meski mendaki curam, posisi duduk maupun berdiri di kereta tidak menjadi miring karena desain tersebut. Perjalanan dari bawah ke atas dan sebaliknya kurang lebih memakan waktu sekitar 10 menit. Oh iya, karena membawa student card, kami mendapat harga khusus. Pemandangan dari atas Penang Hill sangat luar biasa. Selfie jadi keharusan bagi siapa saja yang sudah sampai di atas sana. Lumayan buat jadi profil picture. Hehe.

Kami juga mengunjungi Penang Interactive Museum 3D. Gambar-gambar tiga dimensinya cukup keren. Selain itu, kami hanya sempat beberapa kali main ke Komtar, area pusat kota di mana semua bus akan transit di situ. Di area Komtar itu terdapat beberapa mall yang saling terhubung. Suasananya kurang lebih mirip dengan Blok M di Jakarta. Harga-harga makanan di Penang cukup bersahabat dengan kantong. Seporsi chicken rice (nasi lemak dengan potongan ayam yang besar) di mall hanya seharga RM 6 (Rp. 19.000).

Selanjutnya, biar gambar-gambar saja yang berbicara yaaa..

Wefie di Penang Hill
Di dalam city bus
Masjid Kapitan Keling
@ Penang Interactive Museum

Walaupun kota pesisir, sebagian sudut kotanya tetap rindang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *