Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono mengkritik model kereta yang akan digunakan untuk Mass Rapid Transit (MRT). Moncong kereta dianggapnya mirip kepala jangkrik. Ia pun meminta desain diubah.

Harus diakui bahwa Sumarsono sangat berdedikasi menjalankan tugasnya sebagai Plt. Gubernur. Semua hal di Jakarta ia perhatikan, tidak ketinggalan sampai model kereta MRT yang bahkan belum ada wujudnya. “Kepala keretanya kayak jangkrik. Untuk membutuhkan re-desain ini, kita akan undang pabriknya, yaitu Nippon Sharyo dan Sumitomo, pekan depan hari Jumat agar dijelaskan secara teknis mengenai muka daripada kepala kereta mock up (contoh) rolling stock,” ujar Sumarsono, Senin (16/1).

Direktur Utama PT MRT William P Sabandar mengatakan pihaknya akan mengupayakan penggantian desain seperti yang diinginkan Sumarsono. Namun upaya itu bisa dilakukan jika tidak berbenturan dengan isi kontrak. Sebetulnya, desain yang ada sekarang sudah merupakan revisi dari model sebelumnya yang diajukan. Dalam desain awal, kereta berkelir hijau terang dan cenderung kaku. Sedangkan pascarevisi desain, kereta menjadi lebih manis dengan lengkungan halus. Saya pribadi menilai desain baru yang didominasi warna biru dan hitam itu nggak malu-maluin.

Model baru pascarevisi desain

Menurut William, desain kepala kereta MRT bisa diubah asalkan sesuai dengan isi perjanjian. Dia tidak ingin upaya penggantian itu berdampak pembengkakan biaya dan pertambahan waktu. “Ada batasannya. Hal yang tidak ada di kontrak tidak bisa diubah, kan sudah ada konsekuensinya, misal penambahan dana dan pertambahan waktu. Itu yang coba kami hindari,” kata dia seperti dikutip detikcom.

 

Bagi saya, sebetulnya tidak penting meributkan soal penampakan kereta. Mau kayak kepala jangkrik ataupun kepala banteng nggak penting selama kereta bisa jalan. Kalaupun ada yang ingin dikomentari -jika mungkin ditinjau ulang–adalah soal lebar rel yang digunakan. Seperti sumber berita di sini, lebar sepur yang akan digunakan untuk MRT adalah 1.067 mm. Dalam dunia perkeretaapian, secara umum ada dua lebar rel yang biasa digunakan yaitu 1.067 mm (cape gauge/narrow gauge) dan 1.435 mm (standard gauge). Semua rel di Indonesia -yang notabene mayoritas peninggalan Belanda–menggunakan ukuran lebar 1.067 mm.

Nah, yang jadi pertanyaan mengapa MRT tetap menggunakan narrow gauge? Padahal, menurut sejumlah info yang saya dapat dari perdebatan di salah satu forum, dengan menggunakan standard gauge maka ukuran kereta/gerbong lebih lebar sehingga kapasitas dan daya angkutnya pun akan lebih besar.

Polemik soal lebar rel ini berlanjut di proyek infrastruktur transportasi lain yaitu Light Rapid Transit (LRT). Sementara Kementerian Perhubungan berkukuh menggunakan narrow gauge, Gubernur Basuki saat itu mengusulkan agar menggunakan standard gauge saja. Titik temu akhirnya terjadi saat disepakati baik LRT dalam kota Jakarta maupun LRT Jabodetabek akan menggunakan lebar rel 1.435 mm alias standard gauge.

Bagaimana dengan MRT? Sepertinya sudah tidak mungkin diubah lagi. Apalagi jika melihat bahwa proyek ini mendapat bantuan dari Jepang (JICA), dikerjakan bekerjasama dengan kontraktor Jepang, dan tentunya menggunakan teknologi Jepang. Hampir 85% jaringan kereta di Jepang menggunakan narrow gauge. Jadi, kita akan terus mengalami ketergantungan dengan Jepang. Selain itu, dengan membangun ukuran rel yang sama kan bisa saja nanti limbah kereta bekas Jepang dibuang ke sini.

Plt. Gubernur tentu nggak akan bisa menolak kalau soal lebar rel MRT. Sedangkan untuk urusan model kereta masih bisa lah ribut-ribut. Jangkrik, Boss!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *