Ketiga calon gubernur Jakarta mendapat panggung untuk berdialog langsung dengan para pelaku industri kreatif dalam acara “Kumpul Masyarakat Kreatif, Digital dan Perfilman”, pada Sabtu (14/01/2017) kemarin di Soehana Hall, The Energy Building SCBD. Acara ini digagas oleh Bukalapak.com dengan dukungan dari Selasar dan Parfi56. Sejumlah artis, produser, CEO Startup dan pelaku industri kreatif hadir dalam acara ini.

Hanya berselang sehari dengan debat resmi KPU, acara ini seperti kurang mendapat perhatian. Namun, harus diakui bahwa acara Sabtu malam itu tak kalah keren kalau tak mau dibilang lebih ciamik. Mengapa? Walaupun tidak ada perdebatan antar kandidat –karena setiap cagub mendapat porsi tampil sendiri-sendiri—acara ini berhasil mengelaborasi lebih banyak hal, tentunya dalam konteks industri kreatif, digital dan perfilman. Waktu yang diberikan relatif longgar, yaitu 15 menit untuk pemaparan dari setiap kandidat, dan 30 menit tanya jawab langsung dengan audiens.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Parfi 56, Marcella Zalianty. Dalam sambutannya, Marcella menekankan bahwa di era digital ini ditandai dengan hilangnya demarkasi konvensional alias borderless. Menurut Marcella, warga Jakarta berhak mendapat informasi sebanyak-banyaknya soal siapa yang akan dipilih di pilkada nanti.

Sambutan Ketua Umum PARFI56, Marcella Zalianty

Sambutan berikutnya oleh sohibul hajat, CEO Bukalapak, Ahmad Zaky. Dengan singkat ia menyampaikan mengapa Bukalapak.com seolah ‘ikut-ikutan’ di urusan politik. Menurut Zaky, Bukalapak memang bukan sekadar marketplace saja tetapi membawa visi untuk berkontribusi terhadap pengembangan sektor UMKM. Oleh karena itu, Zaky meyakini perlu ada sinergi antara Bukalapak dan pelaku industri lainnya dengan pemerintah.

“Bukalapak memang berbeda dengan perusahaan biasa yang cenderung menghindari isu publik. Kami justru ingin menjadi bagian dari perubahan,” kata Zaky.

CEO Bukalapak, Ahmad Zaky, memberi sambutan
Basuki Tjahaja Purnama

Suasana meriah saat Prabu Revolusi dan Melissa Karim akhirnya memberikan kesempatan pertama kepada calon gubernur nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama yang memang sudah datang sebelum acara dibuka. Tidak buang-buang waktu, Ahok langsung nyerocos momong soal industri kreatif, digital dan perfilman.

Harus diakui Ahok paham betul dengan isu ini. Beberapa yang ia sampaikan di antaranya adalah soal pembangunan co working space, cashless transaction untuk mencegah korupsi, sampai dengan izin yang ia berikan untuk pemutaran film-film nasional di gedung pemerintah daerah (Balai Kota, Kantor Wali Kota, kecamatan dan kelurahan). “B‎icara soal perfilman kreatif, kami punya cita-cita Kota Tua dan IKJ (Institut Kesenian Jakarta) itu punya bioskop-bioskop kecil untuk putar film indie,” kata Ahok

Saat ditanya tentang keberpihakan pada pelaku usaha lokal oleh Diajeng Lestari, CEO Hijup, Ahok menceritakan soal pusat co working space khusus fashion yang sedang dibangun Pemprov DKI Jakarta. Berlokasi di kawasan Waduk Melati, Ahok berharap tempat tersebut bisa dimanfaatkan oleh para fashion designer yang memiliki keterbatasan modal dan peralatan untuk mengembangkan usahanya. Ahok juga menekankan bahwa yang ia sampaikan bukan sekadar rencana, karena sebagian besar sudah dilakukan dan ada yang on progress. Di akhir sesi, gubernur petahana itu diminta untuk memberikan persembahan kepada audiens. Ia pun lantas membacakan puisi karya Gus Mus.

Anies Baswedan

Tuntas 50 menit waktu yang diberikan kepada Basuki, ia bergegas meninggalkan lokasi acara. Ahok sempat berpapasan dan bertegur sapa dengan Anies Baswedan. Tanpa buang waktu, setelah mendengar aturan main yang dibacakan Prabu dan Melisa, Anies mengambil tempat di panggung. Anies tidak langsung bicara soal industri kreatif, digital dan perfilman. Ia memilih untuk menjelaskan dulu apa yang ia tawarkan, yaitu pendekatan kepemimpinan yang berbeda yaitu movement based leadership.

Anies dan Sandi menawarkan kepemimpinan yang menggerakkan. Seorang gubernur, di mata Anies tidak bisa merasa paling tahu segalanya. Publik pun harus diedukasi untuk tidak selalu menuntut solusi dari seorang gubernur. Sementara Anies kalau terpilih sebagai gubernur justru akan membuka ruang seluas-luasnya bagi semua pihak termasuk pelaku usaha dan masyarakat untuk ambil bagian. “Kalau bisa dianalogikan, kami tidak akan menjadi seperti ensiklopedia Britanica tapi lebih seperti Wikipedia,” kata Anies.

Mantan rektor Paramadina ini juga menjelaskan empat level kebijakan publik. “Pertama, sosialisasi, ini yang paling umum. Pemerintah punya kebijakan, warga disosialisasikan. Kedua, konsultasi, saya tanya dulu ke warga tentang kebijakan yang mau dibuat. Ketiga, partisipasi, warga diajak tapi pemerintah yang memutuskan. Keempat, kolaborasi, kita buat kebijakan sama-sama. Nah, ini yang belum pernah ada dan akan kami lakukan, kolaborasi,” ujar Anies.

Sebagai orang yang pernah diberi amanah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies juga menunjukkan bahwa ia paham betul permasalahan yang dihadapi insan seni. Di antaranya Anies menyinggung ketiadaan ruang publik yang memadai untuk apresiasi budaya, mahalnya biaya produksi film karena harus sound mixing harus di luar negeri, dan lain-lain.

“Seluruh ruang di Jakarta adalah ruang ekspresi seni dan budaya, karena itu harus dibuka. Saya percaya, kalau kota hidup karena kebudayaan, adab pasti meningkat. We’ll do it and we make it easier,” tegas Anies. Di acara ini, selain Anies hadir juga Sandiaga Uno. Ia malah ikut bantu menjawab di sesi dialog saat ada CEO startup sebuah aplikasi yang membantu petani dan nelayan. Sayangnya, Anies dan Sandi tidak melakukan performance untuk audiens seperti Ahok.

 

Agus Harimurti Yudhoyono

Kandidat yang tampil di sesi terakhir adalah Agus Harimurti Yudhoyono. Walaupun waktu sudah beranjak malam, suasana masih meriah karena kehadiran Agus di acara seperti ini bisa dibilang istimewa. Sebelumnya, ia pernah menolak tampil dalam dua acara debat yang diselenggarakan stasiun televisi. Selain didampingi Anisa Pohan, AHY juga diikuti oleh banyak sekali tim suksesnya yang (maaf) suka heboh sendiri di bagian belakang tribun penonton.

Berbeda dengan dua cagub lain, Agus sudah mempersiapkan presentasi yang ia paparkan. Isinya lumayan keren, tapi sejujurnya saya terganggu karena Agus jadi sering mengucapkan “next” atau “lanjut” setiap ingin berganti slide. Beberapa poin menarik yang disampaikan Agus adalah soal rencananya membangun Kedai Jakarta, yang akan jadi semacam tempat berkumpulnya warga untuk melakukan berbagai hal. Di dalamnya akan ada pusat jajanan kuliner, suvenir, juga sekaligus co working space dengan high speed internet access. Tak kurang dari 100 tempat semacam ini ia janjikan akan dibangun.

Pernyataan menarik muncul saat Agus menjawab pertanyaan dari Fauzan, Ketua Asosiasi Produses Film Indonesia. Kepada Agus, Fauzan curhat tentang pengalaman rekan produser yang ‘dipalak’ oleh ormas saat syuting di depan kafe miliknya sendiri. Fauzan menyebut dua ormas besar di Jakarta berbasis saat salah satu etnis dan agama.

“Urusan keamanan, security, saya Insya Allah akan sangat mengerti. Insya Allah kalau saya terpilih jadi gubernur, maka saya akan memprioritaskan bahwa tidak ada pungutan liar yang dilakukan oleh siapa pun. Negara kita adalah negara hukum, panglimanya kan hukum, jadi kita harus menegakkan hukum tanpa pandang bulu, tidak boleh pilih kasih,” tegas AHY memberi janji.

Dibanding saat tampil di debat resmi KPU, penampilan Agus di Soehana Hall malam itu boleh dibilang lebih santai. Hal itu juga disampaikan oleh Melisa saat Agus turun dari panggung, yang sayangnya justru dibalas dengan muka tidak nyaman dari AHY. Ia juga sempat ketus saat ada yang menyinggung Ira Koesno. “Oh, yang bilang tangan saya dingin ya?”, ujarnya sinis.

Di akhir sesi, Prabu dan Melisa meminta performance dari Agus. Putra sulung SBY ini lantas mengajak seluruh hadirin untuk melakukan manequin challange. Acara pun selesai. Para pelaku industri kreatif, digital, dan perfilman sudah mendengar dan berdialog langsung dengan tiga kandidat cagub plus satu cawagub. Ini akan menjadi modal mereka dalam mengambil keputusan siapa yang akan dipilih pada 15 Februari 2017.

Gambir, 16 Januari 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *