Malam semakin larut. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul01.00 dinihari. Mataku tak kunjung merapat. Bukannya tidak mengantuk. Sejujurnya, aku amat lelah hari ini. Belum genap dua jam aku berada di rumah. Tadi ba’da sholat isya aku bergabung ke Pos RW 03, di sana warga sudah berkumpul. Hari ini ada acara peremajaan pengurus RW. Masa bakti pengurus sebelumnya sudah berakhir, dan akan ditentukan apakah terpilih lagi atau digantikan pengurus baru.

Tidak seperti biasanya, pemilihan tadi berlangsung alot. Walhasil, hampir jam sebelas malam acara baru selesai. Setelah basa-basi sebentar, aku pun beranjak pulang ke rumah dinas. Sebagai Lurah, aku memang mendapat hak menempati rumah dinas. Lokasinya tepat di samping kantor Kelurahan.

Bukan sekali dua kali kejadian seperti ini terjadi. Sebagai pamong, aku memang harus bisa mengemong masyarakatku. Sebenarnya aku tak enak hati dengan istriku. Sejak menjadi Lurah empat tahun lalu, waktuku untuk keluarga semakin berkurang. Memang ia sudah terbiasa, karena sudah hampir seperempat abad aku mengabdi di Kelurahan.

**

“Siap-siap bang, sebentar lagi kita bakalan dilengserin,” begitu kata temanku sesama Lurah tadi siang saat kita bertemu di Kecamatan. Kalimat itu terngiang-ngiang di benakku hingga malam ini rasanya sulit sekali memejamkan mata.

Sekitar satu minggu terakhir, isi pembicaraan teman-temanku memang tak jauh-jauh dari lelang jabatan. Terpilihnya gubernur baru di kotaku memang membawa banyak perubahan. Salah satu gebrakannya adalah melakukan lelang jabatan. Terus terang aku sendiri belum begitu paham seperti apa mekanismenya.

Dari informasi yang kudapat, semua Camat dan Lurah yang sedang menjabat pun harus mendaftar dan ikut serta dalam lelang jabatan. Jika tidak, maka yang bersangkutan dianggap mengundurkan diri. Aku sendiri belum mendaftar.

Pendaftaran lelang jabatan dilakukan secara online. Jelas ini menyulitkan buatku. Terserah kalau ada yang bilang aku gaptek. Aku memang tidak mengerti cara menggunakan komputer, apalagi internet. Bisa menggunakan handphone saja sudah bagus.

Dulu, saat aku masih menjadi staf, alat paling canggih hanyalah mesin tik. Aku salah satu staf yang bisa menggunakannya. Walaupun cara mengetikku masih dengan ’11 jari’, aku sangat diandalkan oleh para pimpinan. Rasanya sampai kapalan tangan ini kebanyakan mengetik dengan alat itu.

Riwayat pekerjaanku memang lebih banyak dihabiskan sebagai staf. Maklum, aku hanyalah tamatan SMA. Bukan lulusan sekolah kepamongprajaan, seperti Camat ku saat ini. Usianya baru 38 tahun, lebih mudah 15 tahun dariku. Pak Camat dan para senior serta juniornya memang memiliki karir cemerlang. Jika ukurannya teori pemerintahan, sudah barang tentu aku tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Tapi, kalau urusan pekerjaan boleh diadu.

**

“Pak Lurah, pendaftaran tinggal dua hari lagi. Bapak nggak daftar? Saya bantuin deh Pak”, kata salah seorang anak buahku.

Sebetulnya aku agak kesal juga pagi-pagi sudah dapat pertanyaan semacam ini. Demi sopan santun kujawab juga, “Iya nih, sepertinya saya tidak akan mendaftar.”

“Kenapa Pak?” kejarnya penasaran.

“Mau tau aja apa mau tau banget?” ledekku. Aku pun lantas menyuruh dia saja mendaftar untuk dirinya sendiri. Kebetulan ia memenuhi persyaratan.

Sepanjang hari itu aku menghindari pembicaraan mengenai lelang jabatan. Aku berusaha bekerja seperti biasa, melayani warga sebaik mungkin. Hari ini aku juga menyempatkan mengunjungi salah satu SMA di wilayahku. Kebetulan sedang ada Ujian Nasional di sana.

**

Malam harinya aku kedatangan tamu. Pengurus Karang Taruna berencana mengadakan kegiatan pelatihan kepemudaan. Mereka datang untuk konsultasi dan meminta dukungan. Tentu saja bukan hanya dukungan moral yang mereka butuhkan, tapi juga finansial. Seperti ceritaku terdahulu, sebagai lurah memang banyak sekali pengeluaran-pengeluaran tidak terduga.

Menjelang dini hari, aku terjaga dari tidurku. Aku memang sudah berniat untuk sholat malam. Di hadapan-Nya aku bersimpuh dan meminta petunjuk. Tak lupa aku memohon ampun apabila selama memegang amanah jabatan yang diberikan ternyata banyak melakukan kesalahan. Dalam doaku, kuselipkan harapan agar kotaku bisa semakin maju di masa depan.

Setelah sholat, hatiku semakin plong. Keputusanku sudah mantap. Aku tidak akan mendaftar lelang jabatan. Jangan dikira ini karena aku ngambek atas keputusan gubernur. Sama sekali tidak. Aku juga siap jika memang kemudian dianggap mengundurkan diri lantas kembali menjadi staf.

Sejak dulu aku memang meyakini bahwa jabatan yang aku dapatkan adalah amanat Tuhan, bukan atasan. Maaf jika aku harus ghibah, tapi terpaksa harus aku ceritakan biar Anda tahu, ada teman-temanku yang harus merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah hanya untuk jadi lurah. Alhamdulillah itu tak terjadi padaku.

Tidak sampai tiga tahun lagi aku akan pensiun. Tapi, masa depan kotaku masih sangat-sangat panjang. Oleh karena itu, aku ikhlas lengser keprabon. Demi masa depan kota yang lebih baik, tentu dibutuhkan camat dan lurah yang semakin baik pula.

Aku hanya berharap mekanisme lelang jabatan ini benar-benar bisa menghasilkan camat dan lurah terbaik. Mereka yang lolos seharusnya tidak sekadar jago teori, tapi juga pandai menempatkan diri di masyarakat. Bukan orang yang cuma betah duduk di belakang meja, tapi rajin keliling ke pelosok kampung.

**

“Bu, Bapak sudah memutuskan tidak akan mendaftar lelang,” ujarku kepada istri selepas sarapan. Istriku hanya mengangguk perlahan. Hampir tiga puluh tahun berumah tangga, nyaris tak pernah ia mencecarku dengan banyak pertanyaan. Ia selalu menghormati keputusanku. Baginya, apa yang terbaik menurutku maka terbaik juga untuk dia dan anak-anak.

Mungkin istriku juga sudah lelah. Sebagai istri lurah, maka ia juga memiliki tanggung jawab sebagai Ketua Tim Penggerak PKK tingkat Kelurahan. Mau tau kegiatannya? Bejibun. Mulai dari urusan Posyandu, kegiatan kesehatan lansia, pola hidup bersih dan sehat, pemberdayaan ekonomi keluarga dan masih banyak lainnya.

Ia jalani semua itu tanpa pernah mengeluh, seperti juga pagi ini. Setelah sarapan bersama, aku bersiap untuk berangkat ke kantor. Semua sudah disiapkan istriku. Sementara ia akan menyusul agak siang karena ada acara PKK.

Aku pun berangkat ke kantor dengan penuh semangat. Tak ada lagi beban pikiran yang mengganggu. Aku bertekad, sampai hari terakhir menjabat pun aku akan memberikan yang terbaik. Untuk kotaku, untuk wargaku, dan tentunya untuk kehormatan diriku sendiri.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/shendyadam/curahan-hati-seorang-lurah-batavia-jilid-2_552b25c46ea8342466552cfa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *