Susi Susanti adalah legenda hidup bulu tangkis Indonesia. Sebagai pemain dulu, ia pernah mencapai puncak prestasi dengan persembahan medali emas Olimpiade 1992. Kini, pencinta bulu tangis menanti tuah Susi yang mendapat amanah baru di PBSI.
Susi Susanti usai menerima medali emas Olimpiade 1992

Susi bukan satu-satunya atlet Indonesia yang pernah meraih emas di Olimpiade, tapi ia yang pertama. Namanya harum melegenda sebagai pahlawan olah raga. Momen tangisan Susi saat Indonesia Raya berkumandang dan bendera merah putih berkibar sangat memorable bagi siapapun yang pernah melihatnya.

Sejak gantung raket, ia menepi dari pelatnas walau tidak bisa benar-benar lepas dari olah raga tepok bulu. Bersama suaminya, Alan Budikusuma merintis usaha peralatan bulu tangkis yang diberi label ASTEC (Alan Susi Technology). Prestasi Indonesia di bulu tangkis cenderung menurun dalam satu hingga dua dekade belakangan, khususnya di sektor tunggal putri. Selama itu pula Susi tetap menjaga jarak dengan PBSI.

Sejak Susi pensiun, tak ada lagi pemain tunggal putri yang memiliki prestasi kelas dunia. Mia Audina sempat memberi harapan, namun sayang kariernya begitu singkat karena ada masalah pribadi. Setelah era Susi dan Mia, ada beberapa pemain yang disebut-sebut potensial mulai dari SIlvi Antarini, Maria Kristin, Adrianti Firdasari, Bellaetrix Manuputty sampai Lindaweni Fanetri. Satu per satu mereka ibarat layu sebelum berkembang. Sektor tunggal putri seolah terkena kutukan setelah Susi pensiun. Haruskah Susi turun gunung?

Kabar mengejutkan datang menjelang penghujung tahun lalu. Seiring dengan pergantian Ketua Umum dari Gita Wirjawan ke Wiranto, terjadi pula perombakan pengurus teras PBSI. Salah satu yang tersingkir adalah Rexy Mainaky. Posisinya sebagai Kepala Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) digantikan oleh Susi Susanti. Padahal, Rexy terbilang sukses selama mengemban amanah tersebut. Indikator yang paling mudah dilihat adalah keberhasilan Indonesia mengembalikan tradisi medali emas Olimpiade di Rio 2016 lalu.

Apapun pertimbangannya, keputusan sudah diambil. Susi akan melanjutkan tongkat estafet dari Rexy. Tugas yang tidak mudah, karena selain harus mendongkrak prestasi sektor tunggal putri, sebagai Kabid Binpres Susi juga bertanggung jawab secara penuh terhadap sektor-sektor lain. Sesuai kontrak yang harus dihormati, peralihan tugas secara resmi dari Rexy baru berlaku di awal tahun ini. Susi langsung menggebrak dengan mengumumkan sejumlah kebijakannya, Rabu (4/1) kemarin.

Salah satu perubahan adalah keputusannya menghidupkan kembali pelatnas pratama yang sempat dihapus di era Rexy. Konsekuensinya, kuota pemain di pelatnas Cipayung akan semakin gemuk. PBSI sudah mengumumkan 89 atlet yang akan menghuni pelatnas. Dari jumlah 89 atlet itu, 50 pemain akan mengisi pelatnas utama dan 39 atlet pratama. Susi juga masih akan menambah jumlah pemain dengan terlebih dulu membuka kesempatan magang.

Sementara untuk pelatih, Susi tampaknya lebih berhati-hati. Ia tidak banyak melakukan perombakan. Selain tunggal putri, pelatih kepala di empat sektor lain dipertahankan yaitu Hendri Saputra (tunggal putra), Herry Imam Pierngadi (ganda putra), Eng Hian (ganda putri) dan Richard Mainaky (ganda campuran). Sedangkan di tunggal putri, semua pelatih lawas dilepas. Sejauh ini baru Minarti Timur yang dipastikan akan menjadi asisten pelatih kepala. Susi masih menyimpan nama pelatih kepala tunggal putri karena masalah administrasi belum kelar.

Kita tunggu saja hasil kerja Susi. Sejauhmana ia bisa mengulang kegemilangannya sebagai atlet dulu di posisi barunya sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *